Tanpa Tip dan Permen
REP | 31 October 2010 | 07:24 via Mobile Web
Pelayanan publik selalu akrab dengan sebuah kata bernama “tip”. Sebuah kata yang selalu membuat kita tidak enak untuk tidak memberikan sesuatu sesuai dengan hasil kerjanya.
Pelayanan room service yang membawakan barang kita ke kamar hotel, pembayaran argo taksi yang berlebih tanpa kembalian, atau memberikan uang kecil untuk satpam jaga, dan lain-lain.
Saya pernah menginap di sebuah hotel, kemudian memesan nasi goreng dari kamar melalui telpon. Tidak lama kemudian, datanglah si pembawa nasi goreng mengetuk pintu, lalu kubuka pintu dan mengambil nasi gorengnya lalu membawanya masuk kedalam. Tapi, kok dia belum pergi, padahal telah kuambil pesanannya.
Ada apa gerangan?
Oh, rupanya saya lupa memberi tipsnya. Kurogoh kantong dan mengeluarkan uang lima ribuan saja.
Itu sebuah kebiasaan. Mereka terbiasa menerima tip, kalau belum menerima, dia pasti belum akan pergi.
Ada lagi yang aneh, ketika berbelanja di supermarket atau Mall, sewaktu membayar tidak dengan uang yang pas pasti ada kembaliannya. Tapi terkadang bukan uang yang diterima, tapi permen!.
“loh, kok permen!”
“tidak ada uang recehnya pak.”
“ooo”
Saya sempat berpikir, apa bisa membeli sesuatu dengan permen ini.
Itulah yang terjadi disini yang berbeda dengan di Osaka.
Sewaktu saya berada disana dahulu, pernah juga menginap di hotel dan memesan makanan. Si pengantar makan langsung saja pergi setelah makanan saya terima.
Sopir taksi akan berteriak memanggil, bila uang kembalian argo belum kita terima, padahal cuma 50 yen. Dan akan mengejar bila kita tetap bilang “daijoubu”, “ii desu yo” ke sopir taksi.
Mereka menolak uang tip, apalagi meminta!. Itu kebiasaan mereka, uang gajinya sudah cukup tanpa uang tip sekalipun.
Adalagi ketika berbelanja di supermarket atau mall, bukan permen yang diterima bila ada kembalian. Tapi tetap saja uang, walaupun kembaliannya hanya 1 yen. Makanya, sewaktu di jepang dulu, uang 1 yen saya sebanyak kutaruh dalam 1 botol besar buat koleksi.
Jangankan ke supermarket atau mall, ke pelacuran saja pasti dikembalikan bila uang tersebut berlebih. Itu pernah terjadi pada teman saya orang jepang ketika menemaninya ke tempat prostitusi. Dia dikejar mucikarinya hanya untuk mengembalikan sisa uang “pakai”.
Beda tempat, beda juga budayanya, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing pada suatu negara yang berbudaya.
Pelayanan room service yang membawakan barang kita ke kamar hotel, pembayaran argo taksi yang berlebih tanpa kembalian, atau memberikan uang kecil untuk satpam jaga, dan lain-lain.
Saya pernah menginap di sebuah hotel, kemudian memesan nasi goreng dari kamar melalui telpon. Tidak lama kemudian, datanglah si pembawa nasi goreng mengetuk pintu, lalu kubuka pintu dan mengambil nasi gorengnya lalu membawanya masuk kedalam. Tapi, kok dia belum pergi, padahal telah kuambil pesanannya.
Ada apa gerangan?
Oh, rupanya saya lupa memberi tipsnya. Kurogoh kantong dan mengeluarkan uang lima ribuan saja.
Itu sebuah kebiasaan. Mereka terbiasa menerima tip, kalau belum menerima, dia pasti belum akan pergi.
Ada lagi yang aneh, ketika berbelanja di supermarket atau Mall, sewaktu membayar tidak dengan uang yang pas pasti ada kembaliannya. Tapi terkadang bukan uang yang diterima, tapi permen!.
“loh, kok permen!”
“tidak ada uang recehnya pak.”
“ooo”
Saya sempat berpikir, apa bisa membeli sesuatu dengan permen ini.
Itulah yang terjadi disini yang berbeda dengan di Osaka.
Sewaktu saya berada disana dahulu, pernah juga menginap di hotel dan memesan makanan. Si pengantar makan langsung saja pergi setelah makanan saya terima.
Sopir taksi akan berteriak memanggil, bila uang kembalian argo belum kita terima, padahal cuma 50 yen. Dan akan mengejar bila kita tetap bilang “daijoubu”, “ii desu yo” ke sopir taksi.
Mereka menolak uang tip, apalagi meminta!. Itu kebiasaan mereka, uang gajinya sudah cukup tanpa uang tip sekalipun.
Adalagi ketika berbelanja di supermarket atau mall, bukan permen yang diterima bila ada kembalian. Tapi tetap saja uang, walaupun kembaliannya hanya 1 yen. Makanya, sewaktu di jepang dulu, uang 1 yen saya sebanyak kutaruh dalam 1 botol besar buat koleksi.
Jangankan ke supermarket atau mall, ke pelacuran saja pasti dikembalikan bila uang tersebut berlebih. Itu pernah terjadi pada teman saya orang jepang ketika menemaninya ke tempat prostitusi. Dia dikejar mucikarinya hanya untuk mengembalikan sisa uang “pakai”.
Beda tempat, beda juga budayanya, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing pada suatu negara yang berbudaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar