Burung Gagak dan Toilet Sempit
OPINI | 16 October 2010 | 09:07 via Mobile Web
Di Indonesia, burung gagak merupakan jenis burung yang menakutkan. Penuh mitos dan klenik alam gaib. Jika burung ini hinggap diatap rumah, maka pertanda buruk akan terjadi. Apakah itu kematian, maupun bencana lain yang menakutkan. Suaranya yang parau memecah malam, bikin badan merinding dan penuh was-was jika terdengar di telinga. Sangat takut sekali jika dia hinggap di atas atap rumah kita.
Tapi!, lain tempat lain pula budayanya. Dalam hal ini saya membicarakan tentang lingkungan di negara jepang. Negara berteknologi maju, berbudaya timur dan anti mitos tentang burung gagak tersebut.
Sewaktu pertama kali datang, 5 tahun yang lalu, malam harinya kebelet “beol” atau buang air besar. Karena menempati rumah baru, bingung mencari toiletnya. Setelah lama mencari akhirnya ketemu. Rupanya “Tempat nongkrongnya” lain tempat dengan kamar mandi. Kalau rumah di Indonesia kan selalu menyatu, kamar mandi plus toilet dalam satu ruangan yang besar.
Akhirnya aku “nongkrong” di toilet yang dapat saya katakan sangat sempit untuk ukuran badan sebesar saya. Dapat saya kira 1/2 meter kali 1/2 meter saja, tanpa bak air, hanya ada rol tissue dan tempat nongkrongnya saja.
Lagi asyik nongkrong,
“gakk”, terdengar suara burung gagak berkicau. Suaranya parau, terdengar sangat dekat, dan mungkin hinggap diatas genting rumahku pikirku saat itu. Secara spontan konsentrasiku menekan kotoran keluar langsung “buyar”. Cepat-cepat kuselesaikan aktifitasku itu dan keluar dari rumah.
Mataku langsung menatap ke atas atap rumah, kebetulan saat itu sedang bulan purnama, jadi sangat jelas sekali terlihat kalau ada burung gagak besar sedang bertengger diatap rumah.
Melihat itu aku langsung gemetaran, keringat dingin langsung mengucur, tatkala tahu kalau hanya aku saja yang ada didalam rumah itu, tanpa ada orang lain didalamnya. Harap maklum saja karena saya berasal dari indonesia yang sangat menjaga hal yang berbau klenik.
Aku langsung masuk rumah, menuju kamar, ambil selimut, berbaring dan berdoa semoga malaikat maut tidak mengambil nyawaku malam itu. Hampir sepanjang malam mataku tak bisa tidur, gemetaran, dan ketakutan, hingga pagi harinya mataku masih tetap saja “melek”.
Untuk menyamankan perasaanku kala itu, aku berinisiatif keluar dari rumah dan menghirup udara segar pagi itu. Saat itulah aku dibuat terkejut, mataku terbuka lebar, dan sangat membodohi diriku atas kejadian semalam.
Kala itu mataku menatap kumpulan burung gagak sedang asyik bermain dihalaman rumah, kira-kira ada 5-8 ekor terbang kesana kemari bermain. Di ujung gang juga terdapat kumpulan mereka sedang bergembira bermain. Ada yang hinggap diatas rumah penduduk, dipagar rumah mereka, dan banyak juga yang bertengger di kabel-kabel listrik jalanan.
Ternyata didaerahku Osaka, ada banyak komunitas mereka yang hidup dan berkembang dengan layak tanpa gangguan dari siapapun. Mereka dibiarkan saja terbang, hinggap dan mencari makan apa saja yang dapat ditemui. Sangat jelas terlihat, kalau orang jepang itu walaupun cuek dia sangat menjaga habitat dan ekosistem mahluk hidup selain manusia walaupun itu dikota.
Jadi menurutku sekarang, burung gagak bukanlah burung mistik, klenik, yang membawa malaikat maut. Burung gagak di indonesia sangat minim sekali ekosistemnya. Kalau dia sampai terlihat dikota dan bertengger diatap rumah bukan berarti bakal ada bencana, itu tandanya dia memberitahukan/menyampaikan pesan ke kita kalau ekosistemnya dihutan diganggu, pohonnya ditebangi, semaknya dibakar, dan akan ada bencana besar akibat dari itu semua.
Salam otoko mae!
Tapi!, lain tempat lain pula budayanya. Dalam hal ini saya membicarakan tentang lingkungan di negara jepang. Negara berteknologi maju, berbudaya timur dan anti mitos tentang burung gagak tersebut.
Sewaktu pertama kali datang, 5 tahun yang lalu, malam harinya kebelet “beol” atau buang air besar. Karena menempati rumah baru, bingung mencari toiletnya. Setelah lama mencari akhirnya ketemu. Rupanya “Tempat nongkrongnya” lain tempat dengan kamar mandi. Kalau rumah di Indonesia kan selalu menyatu, kamar mandi plus toilet dalam satu ruangan yang besar.
Akhirnya aku “nongkrong” di toilet yang dapat saya katakan sangat sempit untuk ukuran badan sebesar saya. Dapat saya kira 1/2 meter kali 1/2 meter saja, tanpa bak air, hanya ada rol tissue dan tempat nongkrongnya saja.
Lagi asyik nongkrong,
“gakk”, terdengar suara burung gagak berkicau. Suaranya parau, terdengar sangat dekat, dan mungkin hinggap diatas genting rumahku pikirku saat itu. Secara spontan konsentrasiku menekan kotoran keluar langsung “buyar”. Cepat-cepat kuselesaikan aktifitasku itu dan keluar dari rumah.
Mataku langsung menatap ke atas atap rumah, kebetulan saat itu sedang bulan purnama, jadi sangat jelas sekali terlihat kalau ada burung gagak besar sedang bertengger diatap rumah.
Melihat itu aku langsung gemetaran, keringat dingin langsung mengucur, tatkala tahu kalau hanya aku saja yang ada didalam rumah itu, tanpa ada orang lain didalamnya. Harap maklum saja karena saya berasal dari indonesia yang sangat menjaga hal yang berbau klenik.
Aku langsung masuk rumah, menuju kamar, ambil selimut, berbaring dan berdoa semoga malaikat maut tidak mengambil nyawaku malam itu. Hampir sepanjang malam mataku tak bisa tidur, gemetaran, dan ketakutan, hingga pagi harinya mataku masih tetap saja “melek”.
Untuk menyamankan perasaanku kala itu, aku berinisiatif keluar dari rumah dan menghirup udara segar pagi itu. Saat itulah aku dibuat terkejut, mataku terbuka lebar, dan sangat membodohi diriku atas kejadian semalam.
Kala itu mataku menatap kumpulan burung gagak sedang asyik bermain dihalaman rumah, kira-kira ada 5-8 ekor terbang kesana kemari bermain. Di ujung gang juga terdapat kumpulan mereka sedang bergembira bermain. Ada yang hinggap diatas rumah penduduk, dipagar rumah mereka, dan banyak juga yang bertengger di kabel-kabel listrik jalanan.
Ternyata didaerahku Osaka, ada banyak komunitas mereka yang hidup dan berkembang dengan layak tanpa gangguan dari siapapun. Mereka dibiarkan saja terbang, hinggap dan mencari makan apa saja yang dapat ditemui. Sangat jelas terlihat, kalau orang jepang itu walaupun cuek dia sangat menjaga habitat dan ekosistem mahluk hidup selain manusia walaupun itu dikota.
Jadi menurutku sekarang, burung gagak bukanlah burung mistik, klenik, yang membawa malaikat maut. Burung gagak di indonesia sangat minim sekali ekosistemnya. Kalau dia sampai terlihat dikota dan bertengger diatap rumah bukan berarti bakal ada bencana, itu tandanya dia memberitahukan/menyampaikan pesan ke kita kalau ekosistemnya dihutan diganggu, pohonnya ditebangi, semaknya dibakar, dan akan ada bencana besar akibat dari itu semua.
Salam otoko mae!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar