Muda
Cewek Jepang Sebenarnya Cantik, Tapi…
REP | 27 September 2010 | 16:52 via Mobile Web
Jika melihat cewek jepang di negaranya sono, sudah beda sekali ketika melihat mahluk itu pada zamannya film Oshin. Dandanan sudah aneh, rambut di warna-warni, baju terbuka dan ber-make up ala american women.
Dahulu, ketika film Oshin jadi favoritku, aku sempat tergila-gila melihat wanita jepang pakai kimono pada saat remaja. Tapi sekarang, cewek jepang sudah pintar bermode!, pakai kimono iya, tapi, make up dan sanggulnya sudah beda malah tidak ada sanggulnya. Tidak ada kesan jepang tradisionalnya, yang ada malah percampuran budaya barat.
Kalau anda berjalan ke Mall atau pusat keramaian di jepang. Anda akan melihat kebanyakan ceweknya seperti megaloman ( film kartun zaman dulu ). Pakai sepatu hak tinggi, celana pendek sepaha dan rambut pirang medok!. Persis benar megaloman tadi.
Bahkan ada yang rela kulitnya yang putih mulus di sengaja supaya hitam, dengan berjemur tanpa tabir surya. Yang ada kulitnya jadi gosong. Sudah rambutnya seperti karatan, badan gosong seperti bule serowok.
Kebanyakan memang cewek jepang seperti itu sekarang ini. Pengaruh budaya barat telah mencekoki budaya asli mereka. Salon dan pusat perawatan kecantikan selalu menawarkan pelanggannya untuk diwarnai atau tidak rambutnya, itu pernah aku alami ketika memotong rambut di salon. Setelah rambut dipotong selesai, si pemotong rambut menawarkan cat rambut model terbaru yang bagus buatku. Otomatis aku menolaknya, karena bikin rambut jadi kasar dan cepat rontok kata sang ahli rambut.
Saya bandingkan, cewek jepang dengan cewek korea lebih cantik cewek korea. Padahal sama saja, kalau dandanan cewek jepang masih natural seperti cewek korea. Memang sih cantik itu relatif, orang bilang jelek, kita bilang cantik atau sebaliknya.
Berkaca dari cewek jepang, kurang lebih sama saja dengan cewek indonesia. Jepang punya kimono, indonesia punya kebaya. Tapi, jepang masih mending, masih ada hari khususnya yang pada hari itu wanitanya mengenakan kimono semua. Kalau indonesia sepertinya tidak ada, mungkin belum tercipta saja hari itu, Mungkin.http://muda.kompasiana.com/2010/09/27/cewek-jepang-sebenarnya-cantik-tapi/
Dahulu, ketika film Oshin jadi favoritku, aku sempat tergila-gila melihat wanita jepang pakai kimono pada saat remaja. Tapi sekarang, cewek jepang sudah pintar bermode!, pakai kimono iya, tapi, make up dan sanggulnya sudah beda malah tidak ada sanggulnya. Tidak ada kesan jepang tradisionalnya, yang ada malah percampuran budaya barat.
Kalau anda berjalan ke Mall atau pusat keramaian di jepang. Anda akan melihat kebanyakan ceweknya seperti megaloman ( film kartun zaman dulu ). Pakai sepatu hak tinggi, celana pendek sepaha dan rambut pirang medok!. Persis benar megaloman tadi.
Bahkan ada yang rela kulitnya yang putih mulus di sengaja supaya hitam, dengan berjemur tanpa tabir surya. Yang ada kulitnya jadi gosong. Sudah rambutnya seperti karatan, badan gosong seperti bule serowok.
Kebanyakan memang cewek jepang seperti itu sekarang ini. Pengaruh budaya barat telah mencekoki budaya asli mereka. Salon dan pusat perawatan kecantikan selalu menawarkan pelanggannya untuk diwarnai atau tidak rambutnya, itu pernah aku alami ketika memotong rambut di salon. Setelah rambut dipotong selesai, si pemotong rambut menawarkan cat rambut model terbaru yang bagus buatku. Otomatis aku menolaknya, karena bikin rambut jadi kasar dan cepat rontok kata sang ahli rambut.
Saya bandingkan, cewek jepang dengan cewek korea lebih cantik cewek korea. Padahal sama saja, kalau dandanan cewek jepang masih natural seperti cewek korea. Memang sih cantik itu relatif, orang bilang jelek, kita bilang cantik atau sebaliknya.
Berkaca dari cewek jepang, kurang lebih sama saja dengan cewek indonesia. Jepang punya kimono, indonesia punya kebaya. Tapi, jepang masih mending, masih ada hari khususnya yang pada hari itu wanitanya mengenakan kimono semua. Kalau indonesia sepertinya tidak ada, mungkin belum tercipta saja hari itu, Mungkin.http://muda.kompasiana.com/2010/09/27/cewek-jepang-sebenarnya-cantik-tapi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar