Sosbud
Wanita Jepang: Saya Kesepian
HL | 30 April 2010 | 10:52 via Mobile WebMachi chan wanita paruh baya asal kobe, tiap hari sabtu pasti datang ke apato kami di osaka. Tidak hanya datang membawa makanan dan minuman, tapi disempatkan juga untuk membelikan coklat dan membagikan ke kami.
Jarak antara kobe dan osaka tidak dekat loh. Kalau pakai kereta memakan waktu 45 menit, tapi machi chan tidak memperdulikan jarak yang jauh, yang penting bagi dia, bisa merasakan kebahagian bila bersama-sama kami.
Perkenalan kami dengan machi tidaklah disengaja.
Aku, jhon, dan rudi kala itu sedang berada di kobe. Ketika itu hari jum’at, sebagai seorang muslim kami sering melaksanakan sholat jum’at di masjid kobe, karena cuma satu-satu nya masjid yang terdekat dari osaka. Kami membaur dengan jema’ah asal palestina, pakistan, arab, china, jepang dan indonesia. Merasakan kekeluargaan sesama muslim di negeri perantauan.
Setelah melaksanakan sholat jum’at, kami berjalan-jalan mengitari pertokoan kobe, melihat-lihat pakaian, men-survey elekronik terbaru. Hingga kami lupa jalan menuju stasiun kereta ( maklum baru setahun di jepang ). Lalu bertanyalah dengan orang yang lewat, orang itu tidak lain machi chan. Walaupun agak terbata-bata dalam penggunaan bahasa jepang, tapi machi chan mengerti bahasa kami, kalau sedang tersesat.
Maka diantarkanlah kami kestasiun.
Basa basi kami untuk mengajaknya bermain ke apato kami pun terimanya, dia lalu ikut bersama kami ke osaka walaupun baru saja berkenalan.
Semenjak itu kami pun akrab dengan wanita itu.
Machi chan banyak mengajari kami perihal bahasa jepang dan kebudayaannya, bahkan menu masakan jepang pun di ajarinya. Dari memasak spageti, takoyaki, ramen, hingga onigiri. Semua nya yang diberikannya kepada kami, membuat kebahagian bagi dia.
Pernah aku bertanya soal keluarganya, lalu dijawabnya : dahulunya dia bersama ayah dan ibunya tinggal di okinawa. ketika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil yang saat itu machi berumur 5 tahun, dia lalu di bawa bibinya ke kobe dan menetap hingga sekarang. Tapi sekarang, machi pun hidup sendiri karena bibinya telah meninggal.
” Apakah tidak kesepian?,”
” ya, aku sangat kesepian, seperti yang dirasa oleh wanita jepang lainnya,”
” tidak bermaksud cari suami?,”
” tidak ada yang mau, laki-laki di sini mencari yang cantik dan kaya.”
Ehm pikirku, pantas saja dia merasakan kebahagian bila bersama-sama kami.
Disaat liburan musim dingin, kami dan machi chan main ski di nagano. Kebahagiannya bersama-sama kami membuat sebuah hubungan kekeluargaan yang erat, walaupun jauh dari tanah air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar