Sosbud
Manula, Sebuah Pilihan Hidup
OPINI | 03 May 2010 | 17:27Kamisaka san, panggilan akrabnya kami san, lelaki tua berumur hampir 70 tahun, masih enerjik, bersemangat, dan bugar. Walaupun Tubuhnya kurus, tapi tidak menguranginya untuk terus berkarya pada perusahaan ini. Istrinya masih ada, dan setia mendampingi hidupnya, tapi anak-anaknya telah mandiri semua, kerja di luar dan tidak ada kabar, apalagi menjenguk keadaan mereka, begitu yang dicerita kami san padaku.
Kami san adalah teman satu sif denganku, jika aku masuk siang, maka kami san masuk malam, begitu seterusnya, karena perusahaan kami menggunakan sistem 2 sif, jadi waktu kerja 12 jam per-sif-nya, itu sudah termasuk lembur. Yang menarik dari semua itu dia tidak lelah dan mengeluh dengan sistem kerja yang keras, yang hanya cocok untuk orang seusiaku.
Kamis, jam 8 pagi, saat pergantian sif kerja, aku lihat kami san masih ada di sekitar lokasi mesin kerja, lalu aku menanyainya,
” ada apa kami san kok belum ganti pakaian seperti biasanya?,”
” ada trouble pada mesin,” katanya sambil memegang bahuku dan nafas tersengal-sengal, seolah-olah meminta padaku untuk membereskan masalah itu.
Aku lalu menyuruhnya langsung balik ke loker, untuk segera berganti pakaian dan pulang, karena kasihan, walaupun noda bekas oli dan minyak masih menempel, tapi tetap terlihat wajahnya yang pucat karena kelelahan, dan pakaian kerjanya pun sudah sangat kotor akibat memperbaiki trouble yang terjadi sejak tengah malam hingga pagi ini.
Dia lalu mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi ke loker pakaian.
Sambil membetulkan trouble pada mesin, aku hampir menitikan air mata membayangkan keadaanya. Pernah suatu ketika, dia dibentak dan dimarah habis-habisan oleh leader, padahal leader tersebut masih sangat muda untuk ukuran kami san, dibentak pun cuma gara-gara ketiduran. bahkan suatu ketika, pernah diancam akan dipecat karena dia lupa mematikan mesin pada waktu pulang, sehingga produk jadi numpuk di mesin. Dan disuruh membereskannya dengan cepat tanpa bantuan siapa pun. Tapi, Aku tidak tega melihatnya dan secara sembunyi-sembunyi membantunya.
” kami san kok tidak pensiun aja, sudah sangat berat kerja begini untuk seusia anda?, “
kami san hanya tersenyum dengan ucapanku,
” aku malas kalau hidup di panti jompo,”
” kok bisa begitu?,”
” istriku mau makan apa kalau aku tidak kerja?, hidup kami dari hasil kerjaku sekarang ini. Kalau tidak kerja, maka jelaslah panti jompo yang akan menampung kehidupan selanjutnya,” jelas kami san agak berat.
Di perusahaan tempat aku bekerja saat ini, masih banyak orang-orang yang aku temui seperti kami san, bekerja siang malam, peras keringat banting tulang, mereka di tuntut untuk profesional layaknya pekerja yang muda-muda. Namun teman mereka hanyalah kami anak-anak indonesia yang sedia membantu pekerjaan mereka. Mereka jijik dengan anak muda jepang yang tidak pernah memperhatikan keadaan mereka, dan hidup penuh hura-hura seakan tidak mengingat perjuangan mereka membesarkan perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar