Selasa, 31 Januari 2012

Ketika Puasa Mampir di Hati Shimojo


Puasa Dulu Baru Lebaran

Kirim Pesan

Otoko Mae

use your imagination

Ketika Puasa Mampir di Hati Shimojo

OPINI | 08 August 2010 | 09:34 via Mobile Web47  1 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif
Ini sebuah pengalamanku beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, aku berada dan bekerja di jepang.
Sebuah pengalaman pertama berpuasa di negeri orang, jauh dari orang tua, dan berada pada kaum minoritas.
Gaung ramadhannya memang tidak menggema seperti yang ada di indonesia, karena masyarakat di jepang sedikit sekali yang memeluk agama islam.
Pada sahur pertama, aku masuk sift malam, jadi menikmati makan sahurnya di kantin perusahan bersama 5 orang anak indonesia lainnya. Cukup sepi, karena sebagian yang lain masuk sift siang.
“kamu kok makannya jam 3 pagi”, kata teman orang jepang.
“saya makan sahur”
“sahur itu apa?”
“sahur merupakan salah satu ibadah kami dalam berpuasa”
“puasa?”
” ya, menahan lapar dan haus pada siang harinya,”
“wah, hebat kamu bisa melakukannya,”
“itu salah satu kewajiban kami umat islam,”
“begitu ya,” kata teman saya sambil melanjutkan kerja.
Teman saya itu namanya shimojo, umurnya 27 tahun, telah beristri dan mempunyai 1 orang anak, dia lahir di okinawa, dan dibesarkan di osaka. Dia sangat tertarik dengan kami yang berpuasa. Karena itu dia sahur bersama kami di kantin, dan bercerita kalau dia ingin berpuasa juga bersama kami, walaupun agamanya shinto.
Setelah bersahur, kami mulai berpuasa, termasuk anak tadi. Tidak merokok, minum, dan makan. Tampaknya dia menikmati itu. Setelah jam 8 pagi, aku pulang kerja, termasuk shimojo san.
” masih kuat tidak berpuasanya” kataku kepada shimojo,
” masih dong, aku kuat kok,”
” jangan lupa ya, bukanya jam 18.30 ya!,”
” ok, arigatou”
kalau habis masuk malam, aku biasanya seharian tidur saja, jadi, pulang kerja, langsung mandi dan tidur. Bangunnya jam 5 sore, beres-beres rumah, masak tuk berbuka dan mandi.
Pada waktu menunjukkan jam setengah 7, aku bersiap berbuka, sendirian, dan lauk seadanya. Selesai berbuka, berangkat kerja.
Kugayuh sepedaku menaiki tanjakan di jalan menuju perusahaan, di kejauhan kulihat di pintu gerbang pabrik telah menunggu shimojo,
” ohaiyo,” sapaku ketika sepedaku telah sampai di perusahaan.
” ohaiyo,”
” gimana puasanya, bisa gak?,”
” bisa dong!, malah istriku ikutan juga, tapi cuma setengah hari, dan makan bareng aja jam 18.30 katamu pagi tadi,”
” wah, hebat kamu!”
” atarimai yo,!” ( tentu saja ).
Aku tidak mengharapkan apa-apa sama dia, tidak mungkin bisa mengubah agamanya, dan hanya memberitahu saja tentang islam yang aku tahu. Tapi, sepertinya dia hanya tertarik dengan puasa saja, yang katanya, bikin hemat, bikin dia diet dan tidak banyak waktu terabaikan begitu saja dengan makan dan rokok.
1 minggu pertama puasa, anak itu ikut bersahur bersama kami terus. Pada saat pergantian sift, kelompok kami masuk sift siang, dan berinisiatif mengajak kami sahur bareng di rumahnya, kami pun mau dan menginap di rumahnya.
” istriku loh yang masak, tapi tenang saja, butaniku dan sake tidak ada kok!,” kata shimojo menjelaskan kalau masakannya tidak mengandung babi.
” nanti kita buka nya di perusahaan, apakah akan membawa bekal?,”
” ya, nanti aku bungkuskan bekal buat kita berbuka,”
” apakah tidak merepotkan neh?,”
” tidak kok. Aku senang loh, ada hal baru dalam hidup ku.”
setelah bersahur, kami ngobrol di teras, menunggu sholat subuh dan pagi. Shimojo tidak ikut sholat bersama kami, dan hanya melihat cara kami sholat saja.
Paginya, kami berangkat kerja bersama-sama naik mobilnya, sepanjang perjalanan dia juga bercerita kalau agama mereka ada puasanya juga, tapi malam dan waktunya pun singkat. Jadi walaupun begitu, dia jarang menjalaninya, karena malas katanya.
” kalau dah masuk siang neh, kita harus benar-benar puasa neh,”
” apakah kamu siap shimojo san?”
” wah, gak tau neh, kalau minggu kemaren kan kita tidur aja siangnya,”
” ya, jangan dipaksakanlah, demi kebaikanmu.”
Siang itu di perusahaan cuacanya sangat panas, keringat bercucuran, tenggorokan kering dan haus. Kulihat shimojo dah kelihatan pucat, tapi tetap semangat yang ditunjukan ke kami.
” haus gak ?!,” kataku ke shimojo,
” haus banget “
” sabar aja, tinggal 4 jam lagi kok buka,”
” iya lah, ini dah kayak terbakar tenggorokan,”
” hehe, bisa aja kamu,”
” ntar, kita buka di restoran aja, aku mau minum jus yang paling dingin,” kata shimojo
” terserah bos deh,”
Tepat jam 5, kami pulang kerja, dan langsung ke restoran di daerah namba yang katanya enak-enak. Masuk restoran jam setengah enam, memesan makanan dan minuman.
” jangan masukan daging babi ya,” kata shimojo kepada pelayan.
” oke pak!”
waktu berbuka telah tiba, kami lalu menyantap makanan dan minuman di meja. Makan dan minuman pun habis tak bersisa, kami pun pulang tuk beristirahat.
Setelah berbuka bareng itu, besok dan hari berikutnya, aku tidak bertemu lagi dengan shimojo. kemudian aku menerima telepon dari dia, kalau dia di tugaskan ke anak cabang di australia. Dan mungkin tidak akan bertemu lagi. Tapi tidak apa-apa, yang penting dia bisa mengembangkan dirinya disana sebagai manager baru.
Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar