Selasa, 31 Januari 2012

Bandung, Kenapa Jalanmu Banyak Lubangnya? (HL)


Sosbud

Kirim Pesan

Otoko Mae

use your imagination

Bandung, Kenapa Jalanmu Banyak Lubangnya? (HL)

HL | 01 May 2010 | 14:16 via Mobile Web81  1 dari 2 Kompasianer menilai Menarik

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Baru tiba di terminal luwi panjang, memakan waktu 6 jam lebih, naik bus dari jakarta. Tujuan saya mau ke ciparay, tapi kalau menginjakan kaki di sini hanya 1 kali, itu pun sudah lama sekali.
Sambil menelpon teman yang ngasih tahu jalan, saya mampir dulu di rumah makan ampera, katanya cukup terkenal dibandung, tradisional tapi modern. Selesai bersantap, saya lalu mengikuti anjuran teman, naik angkot .
Dalam perjalanan naik angkot, duduk saya tidak tenang, dikit-dikit kepala ini kejeduk jendela, gak lama, mulai tersantuk lagi. Aduh, harus hati-hati nih, sepanjang jalan dari bandung ke ciparay banyak ranjau darat alias berlubang . Semuanya ini demi teman seperjuangan.
Tiba di ciparay, saya mencari alamatnya, langsung didapat karena ada tenda di depan pagar rumahnya. Terlihat kesibukan di sekitar rumah. Saya di suruh masuk, kulihat temanku sedang dipakaikan merah-merahan di jarinya, langsung ku peluk karena sudah lama tidak bertemu dengan sahabatku ini. Bercerita tentang keadaan sekarang, dan mengingat-ingat memori lama yang mengasyikan, hingga waktu menjelang magrib, sholat dan makan malam.
Rudi, nama temanku itu menyuruh sepupunya Roni, untuk mengajakku jalan-jalan ke bandung, dia tidak ikut karena di jarinya masih menempel ramuan merah-merahan yang masih basah.
Jalan-jalan, memakai mobil lebih mengasyikan, suasana bandung pada malam hari lebih hidup, kami melewati alun-alun, dan berhenti sebentar, kaca mobil dibuka, dan hanya melihat dari dalam.
” banyak cewek ya,”
” ya, pasti ada, terlebih malam minggu, lebih rame,”
” di pojokan itu cantik, sendirian lagi,” kataku sambil menunjuk, maksud hati ingin berkenalan.
” ooo, mau di samperin nih, gampang kok kalau lo mau, ntar gue tambahin, kalau duit lo kurang.”
Maksud Roni, cewek itu bisa di ‘pakai’, kalau mau kita bisa membawanya ke hotel. Tapi kami tidak sampai kesitu, karena kami mau lanjut lagi jalan-jalan.
Mobil memasuki jalan Asia Afrika, wuih lebih ramai lagi nih cewek mangkal.
” siangnya kepompong, malamnya jadi kupu-kupu,” kata temanku yang menunjuk wanita cantik yang berbalut busana seksi di sudut jalan.
Tidak beberapa lama kami segera melanjutkan lagi perjalanan, ke mall udah mau tutup, toko-toko udah sepi, jadi cuma jalan-jalan pake saja.
Diseputaran Dago, anak-anak berusia belasan tahun, nampak asyik bercengkrama satu sama lain, cowok, cewek terlihat mencolok dengan selipan rokok dibibir mereka, aku tidak tahu soal komunitas ini. Tapi kata temanku, cewek belasan tahun itu juga bisa ‘dipakai’, wah gawat nih.
Malam pun telah sangat larut, kami berdua beranjak pulang ke ciparay. “Wah, di sini bukan saja jalannya yang berlubang, tapi ‘lubang’ pun berjalan,” pikirku.
Bandung, beberapa waktu yang lalu..
http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/01/bandung-kenapa-jalanmu-banyak-lubangnya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar