Rabu, 01 Februari 2012

Non Muslim Tapi Ikut Sholat dan Berpuasa


Sosbud

Kirim Pesan

Otoko Mae

use your imagination

Non Muslim Tapi Ikut Sholat dan Berpuasa

OPINI | 06 January 2011 | 17:53212 35  2 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif
Inilah letak “Ke-macho-an” Anak Indonesia. Mereka pandai bergaul, Giat bekerja dan menurut perintah atasan!. Di Jepang, kami Anak Magang Indonesia sangat menjunjung tinggi budi leluhur bangsa. Tidak minum Sake, main wanita, apalagi judi.
Pernah saya ditanya teman saya orang jepang,
“gaji kamu dihabiskan buat apa?”
“gaji saya ditabung, sisanya buat makan, dan sebagian lagi dikirim ke orang tua di Indonesia”
“Sugoi desu ne!” (hebat)
“begitulah”, kata saya sok bijaksana.
Saya tahu dia pasti akan heran. Sebab, rata-rata kebanyakan orang jepang seperti dia, apalagi masih bujang, menghabiskan gajinya di Pachinko (judi), atau main wanita di kedai sake. Saya maklum, walaupun masih di negara Asia, jepang termasuk negara maju yang notabene hidup mereka rata-rata kesepian kurang “hiburan”.
Di Jepang kami tidak meninggalkan kebiasaan Seorang muslim. Saat waktunya Sholat, kami segera menghentikan pekerjaan dan menuju rokka (loker) untuk Menunaikan Rukun Islam tersebut. Mereka (orang jepang) sampai heran, begitu kompaknya dan taat sekali anak Indonesia ini. Saking sudah paham kebiasaan kami tersebut, mereka terkadang juga mengingatkan jika waktunya sholat akan segera tiba.
Pernah, sehabis makan siang dikantin yang ramai orang jepangnya, senior mengajak kami sholat berjamaah. Karena senior sering kerja malam, jadi ketika kerja sif siang dia kangen sholat berjamaah bersama kami, junior.
Disaat bersamaan, salah satu orang jepang menyahut, dia ingin ikut sholat bersama kami. Senior heran, takutnya orang jepang tersebut tidak tahu gerakan sholat dan jadinya kekhusukan sholat jadi terganggu.
Tapi, anggapan Senior salah. Orang jepang itu sangat hapal gerakan sholat 4 rakaat. Senior pun heran dan bertanya,
“apakah Shimojo san ini Muslim?”
“oh, tidak!”
” kok hapal gerakan sholat”
” junior anda yang mengajarkan. Ketika itu saya penasaran melihat mereka sholat, lalu minta ajarkan mereka, sholat itu yang bagaimana”
kata shimojo sambil nyengir.
Shimojo memang sangat akrab dengan kami, karena masuk ke perusahan produksi aluminium itu berbarengan, jadi sama-sama saling belajar antara satu sama lainnya. Jadi tidak heran, sewaktu kami sholat, dia ikut juga mengiringi kami.
“shimojo san, kami mau sholat dulu ya”
“sholat itu apa?”
“sholat adalah kewajiban kami umat muslim, tiap lima waktu kami mengerjakannya, dari pagi ke malam”, kata teman saya menjelaskan ketika baru masuk bekerja dahulu.
Tidak mau ditinggal kami sendirian, dia pun ikut. Dari awal melihat gerakan kami, hingga saya juga ikut mengajarkan tiap gerakan, dia cukup senang. Tapi cuma sebatas gerakan saja, untuk bacaan sholat, dia belum bisa, karena harus tahu juga huruf arab, dan tentunya lidah mereka belum bisa benar melapazkannya.
Yang lucu, pernah suatu ketika di bulan ramadhan kami berpuasa. Dia malah mau ikut berpuasa juga. Makan sahur bareng dirumah (apato) saya, dilanjutkan sholat subuh berjamaah. Tiba siang hari atau tengah hari, teman saya bernama joni kehausan sekali. Saking keringnya tenggorokan, si Joni berniat membatalkan puasa. Lalu pergi ke belakang perusahaan dan minum. Lagi asyiknya minum, shimojo mendekat dan menepuk bahu joni,
“hazukashina, ore mata sanjiki suru yo” (malu dong, saya saja masih puasa)”, kata shimojo
Teman saya joni langsung kabur menahan malu. Sedangkan shimojo pun bercerita perihal yang dilihatnya tadi.
Begitulah. Romantika kami anak magang Indonesia di jepang. Senang, sedih, suka maupun duka bersama-sama dilalui. Mengenai Shimojo tadi, dia tidak punya agama, tidak memeluk satu agama pun di muka bumi ini. Tuhannya tidak ada, namun tetap saja begitu, tidak berbuat jahat, mencuri, merampok, atau perbuatan jahat yang dilarang disetiap agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar