Mainstream Media
Mengenal Lebih dekat Kompasianer Mad Mizan
OPINI | 02 November 2010 | 17:38 via Mobile Web
” Aku mengenal kompasiana karena hidupku selalu yang nomor satu. Minum kopi Nescafe, bacaan sehari-hari Koran Kompas dan majalah tempo, melihat situs berita detik.com, menyimak situs kompas.com. Selain dari itu semua diatas, adalah sampah!,” (Mad Mizan).
Mad Mizan, Kompasianer pencetus kreatifitas menulis ala “sinis”. Siapa yang tidak emosi bila membaca tulisannya dengan serius. Bahkan cacian dan makian di setiap komentar tulisannya sangat mendominasi. Namun dari itu semua, dia tetap santai dan menerima hasil yang diperbuat olehnya tersebut.
Sarjana ekonomi akutansi ini telah menikah dan memiliki satu anak. Rupanya, dibalik sinisnya itu, dia masih berpikir tentang masa depan, yang mengutamakan pendidikan dan pernikahan. Tapi, cukup nakal juga karena dia tidak mengikuti program pemerintah yang melarang pernikahan dini, hahahahaha!.
Maklum, diakan masih muda, lulus kuliahnya saja baru tahun kemarin. Belum genap 30 tahunan untuk mencapai tahap kedewasaan ala paham primitip.
“Target, target dan target!. Kalau target tidak tercapai, bisa-bisa leher saya di gorok oleh bos!”
“Loh, emang elu kerja apa mad?”
“Asuransi!”
“Oh, pantas saja sewaktu saya mencari nama kamu difacebook, tidak ada!”
“saya tidak ada waktu untuk sekedar curhat-mencurhat di facebook. Waktu saya padat untuk bekerja!, menulis di Kompasiana pun ketika terjebak di kemacetan Kota Jakarta!.”
Okelah Mad, terjebak dikemacetan pun engkau bisa mencurigai kompasianer yang bernama Erlinda, karena Anak SMU itu bisa menulis dengan kalimat yang dewasa dengan alur gambar yang pas dan sempurna.
(Via messages with the spesial one kompasianer)
Mad Mizan, Kompasianer pencetus kreatifitas menulis ala “sinis”. Siapa yang tidak emosi bila membaca tulisannya dengan serius. Bahkan cacian dan makian di setiap komentar tulisannya sangat mendominasi. Namun dari itu semua, dia tetap santai dan menerima hasil yang diperbuat olehnya tersebut.
Sarjana ekonomi akutansi ini telah menikah dan memiliki satu anak. Rupanya, dibalik sinisnya itu, dia masih berpikir tentang masa depan, yang mengutamakan pendidikan dan pernikahan. Tapi, cukup nakal juga karena dia tidak mengikuti program pemerintah yang melarang pernikahan dini, hahahahaha!.
Maklum, diakan masih muda, lulus kuliahnya saja baru tahun kemarin. Belum genap 30 tahunan untuk mencapai tahap kedewasaan ala paham primitip.
“Target, target dan target!. Kalau target tidak tercapai, bisa-bisa leher saya di gorok oleh bos!”
“Loh, emang elu kerja apa mad?”
“Asuransi!”
“Oh, pantas saja sewaktu saya mencari nama kamu difacebook, tidak ada!”
“saya tidak ada waktu untuk sekedar curhat-mencurhat di facebook. Waktu saya padat untuk bekerja!, menulis di Kompasiana pun ketika terjebak di kemacetan Kota Jakarta!.”
Okelah Mad, terjebak dikemacetan pun engkau bisa mencurigai kompasianer yang bernama Erlinda, karena Anak SMU itu bisa menulis dengan kalimat yang dewasa dengan alur gambar yang pas dan sempurna.
(Via messages with the spesial one kompasianer)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar